Jumat, 26 April 2013

Terima Kasih Ayah



Tak ada kata yang pantas terucap untukmu ayah. Mungkin engkau bukan orang terdekat. Mungkin engkau juga bukan yang selalu berada disampingku, saat aku bahagia, kecewa bahkan saat aku bersedih hingga meneteskan air mata.
Saat anak-anak pergi sekolah dengan ayahnya yang juga pergi bekerja, kita tidak pernah melakukanya karena kau yang harus berangkat lebih dulu saat matahari belum menampakan cahayanya.
Saat anak-anak menunggu kepulangan ayahnya untuk bermain bersama, tidak dengan aku yang selalu terlelap saat menunggu kepulanganmu yang begitu larut. Andai dapat ku beli waktu kerjamu kala itu, aku rela membayarnya dengan uang jajanku untuk bisa bermain bersamamu.
Kita mungkin bukan pasangan yang baik. Kau sibuk dengan urusanmu, sedangkan aku bermain dengan semua khayalanku.
Saat aku mulai tumbuh besar, kita mulai punya waktu untuk bersama. Tapi bukan untuk bermain melainkan melakukan pekerjaan yang tidak aku inginkan. Seolah kau menindasku, aku jadi tidak suka denganmu. Aku membenci semua tentangmu. Kau marahi aku jika melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan maumu. Kau buat aku merasa lemah dengan ucapan-ucapan kasarmu. Ingin rasanya kau segera tiada dari duniaku, mengakhiri semua penderitaan dalam kehidupanku.
Pernah sekali aku menyalahkanmu atas apa yang terjadi dalam hidupku. Kusadari kau menangis saat ku terbangun sejenak dari tidur lelapku. Lama setelah itu, kupandangi wajahmu saat tertidur lelap, terbayang kerja keras yang kau lakukan untuk membesarkanku. Terbayang letih yang tersimpan dalam dirimu atas kerja keras yang kau lakukan untuk memenuhi kebutuhanku. Seakan tak tahu apa jadinya diri ini jika tanpa kehadiranmu. Tak ingin rasanya kehilanganmu dari sisiku.
Kini aku telah dewasa. Tumbuh menjadi seorang pemuda mandiri yang juga tidak dapat melupakan kasih sayang keluarganya. Kau ajarkan aku menjadi seorang yang siap menjalani kerasnya hidup tanpa melupakan kelembutan hati. Kau ajarkan padaku bagaimana menjadi pribadi yang kuat tanpa melupakan setiap orang punya kelemahan. Kau tanamkan padaku mencapai keberhasilan tanpa melupakan kalau setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan. Kau buat aku berdiri di jalan yang penuh dengan hambatan dan rintangan agarku dapat menaklukan kerasnya kehidupan. Kau jadikan aku sebagai seorang pemimpin yang sanggup memimpin dirinya sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain. Dan yang jauh lebih penting dari itu semua adalah kau membuat aku merasa bangga atas semua yang telah kau lakukan untukku.
Karena itulah, aku selalu berdoa ”semoga Allah selalu memberi yang terbaik untukmu”
Untuk setiap detak yang terjadi dalam nadi dan jantungku, hatiku berkata ”Terima Kasih Ayah”

Jumat, 19 April 2013

Satu Shaf Di Belakangmu

Kamu bilang, aku 'rumah'mu. Bukan bangunan atau gedung, tetapi aku. Jadi, sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas sementara kamu mengambil air wudlu. Lalu aku akan bersiap untuk berdiri satu shaf di belakangmu.

Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu. 

Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia.

Kamis, 11 April 2013

Kehilangan (mu)

Aku menulis ini karena akhirnya aku bisa menyadari kalau ternyata aku masih bisa berjalan lagi.

Kalau ternyata, kehilangan(mu) bukanlah akhir bagi duniaku. Mungkin akhir dari cerita bahagiaku yang ini, tapi bukan akhir dari cerita bahagiaku yang lain. Kenyataannya hidupku terus berjalan sampai sekarang, masih bisa tertawa, masih bisa melakukan hal-hal yang dari dulu biasa kukerjakan setiap harinya. Aku hanya harus melalui kesedihan yang sementara dan beratnya melepaskan yang juga hanya sementara. Tetapi pada akhirnya, aku akan tetap bisa baik-baik saja.

Aku menulis ini karena akhirnya aku menyadari kalau bahagiaku masih ada di masa depan. Mungkin dulu aku yang tergesa-gesa memutuskan bahwa kamu adalah bahagiaku yang selamanya. Ternyata tidak demikian. Ternyata, mungkin Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk yang terakhir, di waktu yang menurut-Nya tepat. Dan itu pasti bukan kamu dan juga bukan waktu sekarang, karena kamu meninggalkanku.

Yang harus aku lakukan saat kehilangan(mu) hanya bertahan, lebih memperhatikan sekitar, dan tidak fokus pada kehilangannya. Karena seberapa pun hidup menjatuhkan seseorang, orang itu tetap memiliki kekuatan untuk memilih berlama-lama meratapi kejatuhannya atau bangkit kembali untuk menyambut bahagianya yang lain. Aku memilih untuk bangkit

Jadi, aku sudah berdiri lagi di sini. Aku sudah siap untuk jatuh cinta kembali. Untuk berbahagia lagi. Sudah juga menghapusmu dari hatiku. Memang tidak menghapus kenangannya, hanya membersihkan ruangannya untuk nantinya bisa ditempati orang yang lebih baik lagi. Yang lebih tepat untukku menurut Tuhan, bukan yang tepat bagiku menurutku sendiri. Karena kalau di hatiku masih ada kamu, kasihan orang lain yang lebih mencintaiku dan berusaha masuk ke hatiku.

Jadi, sebenarnya, kehilanganmu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi, selama aku tidak pernah kehilangan hati dan pikiranku sendiri; aku rasa aku akan baik-baik saja. Karena sebelum ada kamu pun, aku pernah berbahagia, jadi kebahagiaanku sudah pasti bukan tergantung pada kamu.

Rabu, 10 April 2013

Apa???


Apa yang seharusnya aku katakan malam ini. Setiap kata sepertinya tidak lagi percaya akan kekuasannya dalam menjabarkan makna. Apakah iya harap ku terlalu besar untuk menyimpan maknanya. Dalam aksara yang aku sendiri tak mampu lafalkan. Dan bilangan pun tak sanggup ku eja. Tapi memang benar. Padanya aku tak punya cukup alasan. Kau tau. Adalah bodoh mengharapkan hasil yang berbeda dengan cara yang sama. Kurang lebih begitulah Einstein mengungkapkan kegilaanya. Gila yang membuatnya mampu merumuskan hal yang dulu disangsikan orang. Seringkali harus disebut tersesat untuk menemukan jalan baru. Yang lebih baik tentu. Jalan yang dibuat oleh orang-orang di masa lalu. Telah terukur jarak juga likunya. Begitupun nilainya. Kaki diciptakan sangat jauh dari mata. Mungkin dalam prosesnya Tuhan telah menitipkan ilham pada manusia. Agar memberikan kaki mata sendiri. Bahkan mungkin dua kali lebih menerawang dari mata yang ada di kepala. Masihkah cukup percaya pada mata yang ada di kepala. Karena sesungguhnya yang dilihat oleh mata kepala tidak selalu sama dengan yang dilihat kaki oleh matanya. Pada setiap buntu kita akan diberi kebebasan untuk menentukan. Berbalik arah dan mengikuti rombongan orang kebanyakan. Atau jadi pembelot dan menerobos kebuntuan itu. Biar pun tersesat. Namun pada akhirnya kita sendirilah yang menentukan rutenya. Kembali.

Selasa, 09 April 2013

Suamiku, Aku, dan Lelaki yang Aku Cintai Secara Rahasia ( Cerita Dari Seorang Sahabat )

Maaf jika aku merahasiakan nama dari tokoh-tokoh ini...ini semata-mata demi nama baik semuanya...

Ini kisah tentang (mantan) suamiku, aku, dan lelaki yang aku cintai secara rahasia tapi suamiku mengetahuinya. Aku menyimpan cerita tentang lelaki itu dalam semacam note di tabletku. Aku beri pasword agar suamiku tidak tahu. Suamiku baik, mau menerimaku, sering memujiku, meski dia pendiam bukan main. Hal yang membuatku kadang-kadang kebosanan. Aku ingin hidupku lebih berwarna dengan banyak cerita dan banyak tawa. Ini berbeda dengan cinta rahasiaku bersama lelaki itu. Lelaki itu bisa selalu membuatku tertawa. Dia tidak pernah kehabisan cerita.Bisa membuatku betah berlama-lama bersamanya. Akhirnya aku menyerah. Aku memutuskan, tidak apa-apa aku yang lebih sering bercerita, dan biar suamiku yang menjadi pendengarnya. Adil. Karena mengharap dia bercerita dan membuatku tertawa itu tidak mungkin. Seperti pungguk merindukan bulan. Lagipula, aku tetap bisa mendapatkan tawa dari orang lain, seperti dari lelaki itu, misalnya.

Dia, suamiku, kemudian memang menjadi pendengar paling baik yang pernah aku kenal. Dia akan duduk di depanku berlama-lama. Tidak hanya mendengar tapi memperhatikan. Dia akan menaruh handphonenya, bukunya, atau apa saja yang sedang dia pegang atau kerjakan, hanya untuk mendengar aku bercerita. Dia bisa hapal apa yang kuceritakan saking perhatiannya. Cukup menyenangkan, tapi belum cukup. Karena lama-lama, aku menjadi bosan. Aku masih ingin diberi lebih banyak tawa. Lalu aku ingat pada suatu hari dia melihat mataku berbinar ketika bercerita tentang seseorang. Tentang lelaki itu, lelaki yang kusimpan ceritanya di note tabletku itu. Dia memperhatikan, tersenyum, dan berkata, "Memiliki cinta selainku dan kamu jadikan rahasia itu tidak apa-apa. Bisa jadi, cinta itu ada karena kekuranganku atau kelebihan dia." Aku terdiam. Jangan-jangan aku terlalu banyak bercerita tentang dia? Sial. Apakah kebahagiaanku ketika menceritakannya sebegitu kentara? Sampai berulang-ulang aku menceritakan dan aku tidak menyadarinya? Sial!

Seharusnya aku lebih berhati-hati. "Tapi jangan kamu pupuk," lanjut suamiku, "dan kamu biarkan berkembang. Jangan terlalu dekat dengannya, jangan berusaha membuatnya jatuh cinta, seberapapun kamu ingin melakukannya. Dan jangan terlalu perhatian dengannya. Seorang lelaki yang diperhatikan perempuan, bisa membuatnya jatuh cinta. Dan jika kamu terlalu perhatian dengannya, cinta yang lain--aku, bisa-bisa tidak kamu perhatikan lagi dan lama-lama cintaku ini mati."

Ada jeda dalam percakapan kami berdua. "Bagaimanapun juga, cinta yang diberi pupuk akan lebih bertahan daripada yang tidak. Yang diperhatikan, akan lebih kamu sayang. Jangan memupuk cinta rahasiamu dengan berlama-lama meluangkan waktu bersama dia. Hanya itu pesanku." Aku terkejut. Dia tahu. Dia mengenali perasaan jatuh cintaku. Atau dia pernah membuka tabletku dan membaca note-noteku? Semoga tidak. "Suatu hari nanti kamu akan mengerti." Katanya kemudian. Lalu dia mencium keningku, tersenyum, memelukku, dan tidur dengan membelakangiku. Seperti tidak boleh melihat wajahnya, matanya, atau lukanya malam itu. Aku tidak tahu. Karena semalaman aku merasa dia tidak tidur. Posisinya berubah terus sehingga membuatku terganggu. Aku juga sempat terbangun dan memergokinya hanya duduk di pinggir kasur, atau memandangiku yang sedang tertidur. Begitu tahu aku terbangun, dia hanya tersenyum.

Apa tatapan matanya itu sedang terluka? Sepertinya iya. Tapi aku terlalu mengantuk untuk memperhatikannya. Kata orang, kita tidak akan pernah menyembunyikan kebohongan kepada orang yang kita cintai. Apakah itu benar? Apakah itu yang sekarang sedang terjadi? Dia tahu apa yang kututupi? Ya, Tuhan, jangan. Aku memuja lelaki itu, tapi aku juga tidak ingin melukai suamiku. Dua hal yang tidak mungkin, tapi aku usahakan agar mungkin. Itu setahun lalu. Dan, sekarang aku mengerti apa kata-katanya ketika aku memutuskan untuk meninggalkannya enam bulan setelah itu. Ketika cinta rahasiaku aku pupuk dengan mengobrol bersama lelaki itu setiap hari dan memperhatikannya setiap pagi. Menemani dia bercerita sampai tengah malam buta, menemani dia sampai aku tertawa bahagia saking nyamannya. Aku memenuhi hatiku dengan dia, dan bukan suamiku. Seperti ABG yang sedang tergila-gila. Dan, pelan-pelan, bayangan suamiku memang menghilang.

Sekarang aku mengerti apa yang dimaksudkannya dengan jangan memupuk cinta rahasiaku. Karena pada akhirnya, cinta rahasiaku jauh lebih bersemi dari cintaku kepada suamiku. Aku memupuk cinta rahasiaku dengan terus berpikir tentangnya, menulis tentangnya, dan menemaninya bercerita. Sedangkan suamiku? Lama-lama aku tidak pernah lagi mau berbagi cerita dengannya. Apa-pun yang dia katakan menjadi membosankan dan menyebalkan. Aku mulai rindu pada cinta rahasiaku, selalu. Dan, pelan-pelan, semua yang dilakukan suamiku sekarang terasa menyebalkan. Mungkin ini yang dia katakan bahwa memiliki cinta rahasia itu tidak apa-apa, tapi jangan dilanjutkan dengan jangan berlama-lama meluangkan waktu bersamanya. Seperti melihat orang tampan ketika sedang jalan itu tidak apa-apa, asal jangan diteruskan dengan meminta nomor telepon dan berhubungan intens dengannya. Karena jika sebuah kekaguman dilanjutkan dengan kedekatan, lama-lama cinta yang lebih dulu datang akan berangsur menghilang, dan cinta baru yang akan menggantikan. Dan memang benar, cinta kepada suamiku sudah benar-benar tergantikan. Intinya, cinta yang dulunya adalah rahasia menjadi semakin mendominasi hati dan pikiranku sampai aku memutuskan meninggalkan suamiku demi cinta rahasiaku itu. Suamiku hanya tersenyum ketika itu. "Aku tahu hari ini akan datang." katanya. "Aku sudah mempersiapkan diri untuk melepasmu semenjak aku tahu kamu memiliki cinta rahasia di dalam hatimu. Sebenarnya aku berharap, itu hanya sebatas cinta rahasia, tidak kamu lanjutkan ke arah yang lebih dekat. Hanya kekaguman, lalu kamu hentikan. Tapi tidak apa. Pergilah bersama dia. Aku akan menalaktigakan kamu sekarang juga. Semoga kalian bahagia."

Aku belum pernah melihat seorang lelaki setabah itu. Melepaskan perempuan yang sangat dicintainya dengan tersenyum dan mendoakanku berbahagia. Aku beruntung pernah memilikinya. Pernah beruntung. "Bagaimana dengan kamu?" tanyaku getir. Meski tidak lagi mencintainya, aku masih ikut merasakan lukanya. Dia masih tersenyum. "Jangan khawatirkan aku. Kebahagiaanku tidak pernah tergantung orang lain. Bersama siapa pun aku bisa bahagia, sendiri pun aku juga bisa. Kamu berbeda. Kamu hanya bisa berbahagia dengan seseorang yang kamu harapkan, yang kamu inginkan benar-benar. Kalau aku tetap bisa menikmati teh ketika sebenarnya aku menginginkan kopi, tapi kamu tidak bisa. Kalau kamu ingin kopi harus mendapatkan kopi. Hari ini mendapat teh pun kamu akan mengejar kopi dan meninggalkan teh begitu melihat kopi."

Itu pahit. Aku merasa tersindir. Sial! "Dan ingat," lanjutnya lagi. "Aku melepaskan bukan karena aku tidak mencintaimu atau tidak berniat memperjuangkan. Aku melepaskan karena aku tidak mau hidup dengan seseorang yang hati dan pikirannya bahkan tidak pernah bersamaku." Aku tahu, batinku. Tetapi ada kenyataan yang tiba-tiba saja aku tahu. Dia tidak berubah. Bahkan ketika kecewa dan marah pun, dia selalu bisa mengucapkan apa pun dengan tenang. Tidak membentak atau berlaku kasar. Dia tetap sama. Pria paling tenang dan datar yang pernah kutemukan. Meski hatinya mungkin hancur lebur pada saat ini. Pada saat harus melepaskan perempuan yang dia pernah mengatakan kalau dia beruntung memilikiku ini. Untuk ketenangan dan senyumnya itu, mungkin aku akan merindukannya.

Tapi lupakan. Aku sudah memilih untuk meninggalkannya. Untuk bersama lelaki yang secara rahasia pernah aku cintai. Untuk bahagia yang sudah lama aku cari. Dan kenyataannya, pilihanku benar. Aku lebih berbahagia bersama lelaki itu. Dia bisa membuatku tertawa, membelikan barang-barang yang aku suka, memelukku, memujiku, dan memberi aku bunga atau puisi cinta. Itu sangat menyenangkan. Ya Tuhan. Aku jatuh cinta. He's adorable. And I feel loveable. Sayangnya itu tidak bertahan lama. Sangat tidak bertahan lama.

Beberapa waktu kemudian, yang aku ketahui adalah bahwa lelaki itu, cinta rahasiaku yang dulu itu, ternyata tidak pernah mencintaiku, sepertinya. Dia hanya menganggapku perempuan seksi untuk selalu melayani nafsunya. Dia memuja tubuhku, bukan aku. Memuja kecantikanku, bukan aku. Memeluk tubuhku, bukan hatiku. Awalnya, aku mengira, mungkin lelaki itu membutuhkan waktu lebih lama untuk menerimaku, jadi aku tetap memperjuangkannya. Lagipula aku sudah mengorbankan segalanya untuk dia. Dia pasti mau melakukan yang sama.

Tetapi, sebenarnya, seperti ini pun aku sudah senang. Cukup dia bisa sesering mungkin bersamaku. Itu saja. Tidak apa-apa kalau belum ada ikatan. Dia datang dan pergi ke tempatku dengan sesuka hati, dan aku selalu senang menyambutnya. Aku mungkin sudah gila. Aku sudah tahu aku hanya jadi pelampiasan nafsunya, tapi tetap mau melakukannya. Temanku bilang aku bodoh, aku bilang aku jatuh cinta. Dan sampai waktu berlalu pun kisahku dengan lelaki itu tidak berubah. Masih sama. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan mengikatku.

Sampai suatu ketika, beberapa bulan kemudian, mantan suamiku meneleponku dan bertanya, 'Dia sudah meninggalkanmu?' Masih dengan suara serak dan ketenangannya. Aku bahkan seperti melihat senyumnya sekarang. Senyum yang selalu menenangkan. Entah kenapa sekarang ini aku benar-benar merindukan senyum itu dan perhatiannya. Damn! Tiba-tiba aku rindu sekali pada mantan suamiku itu. Dan suaranya sekarang ini membuat airmataku turun tanpa bisa kukendalikan lagi.

Aku menjawab teleponnya dengan pura-pura tertawa, "Tentu saja tidak. Kami saling mencintai. Tidak terpisahkan." Aku tertawa lagi. Keras. Seperti air mataku yang juga mengalir lagi. Deras. "Oh," jawab suara di seberang sana pelan. Kami saling menutup telepon, lalu aku meremas undangan terkutuk berisi nama cinta rahasiaku dulu bersama nama seorang perempuan. Lelaki brengsek itu akan menikah bulan depan dengan gadis lain. Dia merahasiakannya kepadaku selama ini. Kalau tidak karena temanku yang memberitahukan undangan ini, aku juga tidak akan tahu. Dan dia pasti akan datang kepadaku, dengan tawanya seperti biasa, seolah-olah tidak melakukan dosa. Seperti malam tadi.

Aku yakin, mantan suamiku tahu kalau lelaki itu akan menikah dengan perempuan lain. Makanya dia meneleponku. Untuk meyakinkan apa aku baik-baik saja. Aku yakin. ____ "Jatuh cinta saja tidak cukup untuk berbahagia. Hati dan logika harus disertakan ketika memutuskan untuk meninggalkan atau untuk bersama."

" terimakasih mbak S.N. atas ceritanya...dan terimakasih atas pelajaran serta pengalaman yang sudah diberikan malam tadi dan izinnya untuk berbagi cerita ini...."

Kamis, 04 April 2013

Meraih Bening Hati dengan Mengasah Qolbu

Tata letak dan desain warna bunga tampak begitu berkombinasi secara elok. Dipilihnya jenis dan warna bunga yang memiliki warna terindah dan menebarkan bau harum ke segala penjuru taman. Rumput liar dia cabuti, ranting-ranting kering dipetiknya hama penyakit dia musnahkan, dan tidak lupa pula dia sirami setiap hari. Sehingga, tanah selalu gembur, bunga-bunga tumbuh dengan suburnya. Daun-daunnya terlihat menghikau. Sungguh indah pemandangannya. Tiap kali orang melewatinya akan berhanti untuk menikmati keindahannya. Begitu juga dengan hati yang pemiliknya rajin merawatnya, sikap dan perbuatannya akan terlihat indah.

Betapa bahagianya orang yang memiliki hati yang tertata dan terpelihara dengan sebaik-baiknya. Bagaikan taman berbunga yang indah. Pemiliknya mampu merawatnya dengan penuh kesabaran. Untuk mendapatkan keindahan apapun dia lakukan. Seni penanamannya tertatat rapi.

Hatinya selalu terpikat dan memendam rasa rindu ingin bertemu Allah. Kecintaan dan kerinduan kepada-Nya mengundang dirinyauntuk rajin beramal shaleh. Ibadah dilakukan dengan khusyu'. Hatinya bergetar dikala mendengar asma Allah dilantunkan. Sementara itu, dia akan berusaha mati-matian untuk menepis riya', dengki, ujub, takabbur, dan sifat-sifat tercela lainnya bersarang di dalam hatinya

"Sungguh beruntung orang yang memiliki hati yang bersih"...